Beranda News Di Kota yang Menuju Bencana, Rumah Warga Tenggelam di Depan Mata

Di Kota yang Menuju Bencana, Rumah Warga Tenggelam di Depan Mata

2
0


Tempat-tempat di mana kita dilahirkan, bermain, dan tumbuh dewasa, semuanya hilang.

An abandoned mosque in northern Jakarta swamped by water

Rumah Rudi Suwandi di barat laut Jakarta perlahan ambles beberapa sentimeter setiap tahunnya.

Pepohonan dan taman dimana biasanya anak-anak bermain telah hilang, begitu juga rumah-rumah dengan pekarangan, termasuk seluruh kamar di rumah Rudi. Bahkan kuburan desa tempat para leluhur dan ribuan warga dimakamkan ikut menghilang. Di tempat tersebut terdapat genangan air yang keruh.

Rudi ingat pertama kali air muncul pada pertengahan tahun 90-an, saat daerah itu mulai mengalami banjir setiap musim hujan. Setiap tahunnya, banjir semakin tinggi dan butuh waktu untuk mengalirkan genangan.

Di tahun 1995, kedalamannya mencapai 20 sentimeter dan butuh waktu tiga hingga empat bulan sebelum mengering. Pada awal 2000-an kampungnya, Kapuk Teko, mengalami banjir permanen.

Sekarang, seluruh area terendam air setinggi dua meter. Semua rumah bertengger di atas air yang kini menyerupai danau, dihubungkan oleh kayu-kayu dan jalan terbuat dari beton. Satu-satunya jalan menuju daerah tempat tinggal Rudi adalah jembatan beton yang sempit.

“Tempat-tempat di mana kita dilahirkan, bermain, dan tumbuh dewasa, semuanya hilang,” kata Rudi. “Semua orang di sini sangat sedih dengan apa yang terjadi di kampung kami, lingkungan dengan pepohonan dan tanah untuk bermain semuanya telah hilang.”

Rudi Suwandi on the walkway into his flooded community in Jakarta Photo: The only way to get into Rudi Suwandi’s community is via this narrow concrete path. (ABC News: Ari Wu)

A floating village in Jakarta Photo: A makeshift garden floats on the water covering the Kampung Teko community. (ABC News: Ari Wu)

Inside a floating village in Jakarta Photo: Many houses inside the village have had to be raised because of the water. (ABC News: Ari Wu)

A drone shot showing a village surrounded by green, stagnant water

Selama bertahun-tahun, tanah di bawah desa mereka telah tenggelam. Bukan hanya di sini, tapi terjadi juga di banyak kawasan di Jakarta.

Jalanan sudah rusak, bebatuan untuk menghalangi perairan juga tidak ada lagi, dan seluruh bangunan ditinggalkan begitu saja.

Yang paling parah, Kota Jakarta, yang berada di bibir Laut Jawa dengan perannya sebagai muara beberapa sungai, kini makin rentan terhadap banjir.

Para peneliti di Institut Teknologi Bandung Indonesia (ITB) telah melacak fenomena ini, yang dikenal sebagai penurunan tanah, selama lebih dari dua dekade. Dengan menggunakan perpaduan teknologi radar satelit dan pengukuran di dalam tanah, mereka dapat memetakan tingkat tenggelamnya Kota Jakarta.

Land subsidence in Jakarta since 1977

Source: Bandung Institute of Technology

Land subsidence in

Jakarta since 1977

Source: Bandung Institute of Technology

Sejak tahun 1970an, sebagian wilayah Jakarta tenggelam lebih dari empat meter, dengan kecepatan hingga 25 sentimeter per tahun. Artinya kawasan ini tenggelam lebih cepat dibandingkan kota-kota lainnya di dunia.

Penurunan tanah digabungkan dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim telah menyebabkan terjadinya bencana alam.

“Jika kita memodelkan ini dan memproyeksikan ke depan, sekitar 95 persen permukaan Jakarta utara pada 2050 akan berada di bawah laut,” kata Heri Andreas, pakar penurunan tanah dari ITB.

“Artinya jika kita tidak melindungi [Jakarta] dengan tembok laut atau cara lain, maka Jakarta akan dibanjiri oleh air laut.”

Tanpa campur tangan besar untuk mencegah tenggelamnya Jakarta, tim peneliti bersama Professor Heri memperkirakan lebih dari seperempat Jakarta bisa tenggelam di tahun 2025. Bagian utara kota ini, yang dihuni lebih dari 2 juta orang, adalah yang paling rentan.

A new sea wall in Jakarta Photo: The imposing sea walls along the shores of northern Jakarta have become a part of everyday life for locals. (ABC News: Ari Wu)

Untuk memahami mengapa hal ini terjadi dengan sangat cepat di Jakarta, ada baiknya melihat seberapa padat penduduk di kota ini.

Kawasan perkotaan, yang dibangun di Jabodetabek, diperkirakan dihuni lebih dari 34 juta orang.

Di wilayah tersebut, lebih dari 10.000 orang tinggal di setiap kilometer persegi. Sebagai perbandingan dengan Kota Sydney, yang hanya 2.000 orang per kilometer persegi.

How does population density in Jakarta compare to other cities?

The urban reaches of Jakarta are among the most densely populated in the world, with more than five times the number of people per square kilometre than Melbourne or Sydney.

How does population density in Jakarta compare to other cities?

The urban reaches of Jakarta are among the most densely populated in the world, with more than five times the number of people per square kilometre than Melbourne or Sydney.

Data ini menunjukkan kepadatan tinggi yang secara konsisten terjadi di sebagian wilayah Jakarta. Akibatnya, kota ini berada di bawah tekanan.

Jakarta juga dikenal dengan kemacetannya, seringkali berada di peringkat kota-kota paling padat di dunia. Kemacetan telah berkontribusi pada kualitas udara yang buruk.

Ditambah lagi hanya sebagian kecil air limbah di Jakarta yang diolah. Sebagian besar mengalir ke jaringan sungai dan kanal kota yang luas.

Citra satelit yang ditangkap setiap dekade dari tahun 1970-an menunjukkan seberapa besar jangkauan kota telah semakin luas.

The green colour surrounding Jakarta highlights healthy vegetation, much of which has disappeared since the 70s.

Source: NASA/USGS Landsat

Kebanyakan proyek infrastruktur tidak sesuai dengan kecepatan pertumbuhan.

Sebagian besar warga di kota Jakarta tidak memiliki akses atau tidak mampu membeli air ledeng. Sebaliknya, lokasi konstruksi, pusat perbelanjaan, apartemen bertingkat tinggi dan penduduk mengambil air dalam jumlah besar, seringkali secara ilegal, dari bawah tanah.

Setiap tahunnya, sekitar 630 juta kubik air dipompa dari bawah tanah di kota Jakarta, dan ini menjadi alasan utama kota ini tenggelam.

“Rumusnya sederhana … jika kita bisa berhenti menggunakan air tanah, penurunan tanah akan berhenti,” kata Profesor Andreas.

“Pertanyaannya adalah, bisakah kita berhenti menggunakan air tanah?”

A water vendor uses a hose to fill his containers with fresh water. Photo: A water vendor fills his containers with fresh water to sell to people in the surrounding suburbs. (ABC News: Ari Wu)

Transporting fresh water in Jakarta Photo: Without fresh tap water, many locals rely on people like Mr Cipto who delivers and sells water to communities in Jakarta. (ABC News: Ari Wu)

Kota-kota besar lain di dunia yang pernah melakukan sebelumnya adalah Tokyo, dengan penduduk 38 juta orang dan pernah tenggelam lebih dari dua meter pada abad ke-20, sebelum menerapkan beberapa langkah untuk membatasi pengambilan air tanah secara berlebihan. Sebagian besar pasokan air kota juga dialihkan ke permukaan tanah.

Perubahan ini telah menghentikan ibukota Jepang tenggelam dan ambles.

Tetapi para pakar percaya tidak cukup banyak yang dilakukan di Jakarta untuk menghentikan penurunan tanah.

Presiden Indonesia Joko Widodo telah mengawasi investasi besar dalam infrastruktur dan awal tahun ini berupaya meningkatan infrastruktur air Jakarta, sebagai bagian dari investasi senilai AS$ 40 miliar di Jakarta selama beberapa dekade ke depan.

Gubernur Jakarta, Anies Baswedan juga mengetatkan kebijakan untuk menindak penggunaan air tanah ilegal. Tetapi tidak jelas apa dampaknya terhadap penurunan permukaan tanah karena kurangnya metode yang dapat diandalkan untuk memantau tingkat air di bawah tanah.

Pembangunan “Tanggul Garuda Raksasa” telah dimulai setelah banjir hebat pada tahun 2013, menujukkan para pembuat kebijakan yang mulai fokus pada kerusakan akibat penurunan permukaan tanah. Rencana saat itu adalah untuk membangun sebuah kawasan di atas air dengan bentuk garuda. Proyek dengan nilai mencapai AS$ 40 miliar ini dianggap dapat menjadi penyangga Laut Jawa.

Tapi setelah khawatir struktur itu malahan akan menjadi teluk beracun, karena mengandung air dari sungai-sungai Jakarta yang sangat tercemar, serta skandal korupsi yang terkait dengan beberapa pulau dalam proyek tersebut, konsep tersebut dibatalkan. Tapi pekerjaan terus dilakukan untuk memperkuat dinding di utara Jakarta, serta proyek dinding laut yang sama ambisiusnya.

Dan, tentu saja, ada pengumuman bahwa Indonesia akan mencari rumah baru untuk ibukota Indonesia yang jauh dari pulau Jawa untuk meringankan beberapa masalah populasi di wilayah tersebut. Ini adalah rencana yang pernah diajukan sebelumnya dan tidak pernah membuahkan hasil. Tetapi jika kali ini benar akan terjadi, maka akan memakan waktu setidaknya 10 tahun.

Meskipun ada kemunduran dari jadwal yang sudah ditetapkan, para ahli berharap mereka yang berkuasa di Jakarta bisa melihatnya perlunya melakukan perubahan, karena kini Jakarta sudah dikejar waktu.

“Kita mampu melakukan ini. Kita memiliki teknologinya. Kita hanya perlu kemauan mereka yang memiliki kepentingan, karena langkah pertama adalah yang paling sulit,” kata Professor Heri.

A seawall in Jakarta Photo: Seawalls like this one in northern Jakarta are all that separates the seawater from the low lying communities below. (ABC News: Ari Wu)

Untuk saat ini, semua yang terjadi di antara warga Jakarta utara dan bencana mungkin masih terpisah tembok yang tebal.

Tapi bahkan mereka pun tenggelam.

Di satu sisi dinding laut, ada teluk dimana tanaman tumbuh dari kerangka kapal yang setengah tenggelam dan anak-anak bermain-main di dalam air.

Di sisi lain, beberapa meter di bawah permukaan air, terdapat lingkungan padat yang terhubung gang sempit dan hanya cukup dilewati sepeda motor.

Di Gedung Pompa, tidak ada banjir besar sejak 2013 ketika dinding dibangun kembali satu meter lebih tinggi dari sebelumnya.

Devi Mariani sambil menggendong bayinya mengingat teror yang terjadi ketika air menembus tanggul.

Jakarta resident Devi Mariani with her child Photo: Devi Mariani’s home sits beneath sea level and is protected, for now, behind a two-metre sea wall. (ABC News: David Lipson)

“Saya sedang hamil tua dan akan melahirkan ketika banjir terjadi,” katanya.

“Tingginya seleher kita. Mereka mengevakuasi saya ke rumah sakit, tapi mobil dan ambulans tidak bisa menjangkau saya sehingga mereka harus mengangkut saya dengan rakit.”

Anak perempuannya sedang bermain dengan teman-temannya, dan membuat Jumiati, ibu dari Devi tersenyum.

“Sekarang anak-anak bisa berlarian dengan bebas. Mereka bisa bermain dimana saja mereka mau. Bahkan saat hujan deras, air mengalir dengan mudah.”

Jika saja ia tahu bahwa tembok itu hanyalah sementara, dan tanah di sekelilingnya sudah tenggelam tak terlihat, Devi mungkin tidak akan mengatakan apa-apa.

Credits

  • Liputan: Mark Doman, Ari Wu dan David Lipson
  • Tambahan riset dan wawancara: Chicco Guilianno dan Anne Barker
  • Fotografer: Ari Wu and Phil Hemingway
  • Desain: Alex Palmer

Catatan soal laporan ini

Data populasi dan kepadatan dalam laporan ini diambil dari laporan Demographia World Urban Areas 2019. Laporan tersebut menggunakan perangkat lunak pemetaan untuk memperkirakan daerah urbanisasi yang terus berkembang, ketimbang menggunakan batas-batas kota. Data yang digunakan juga mengkombinasikan data sensus lokal dan proyeksi populasi PBB untuk mencapai perkiraan populasi dan kepadatan saat ini.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.





Source link
(Andrew Hidayat/Fakta.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here