Beranda News TBC Menghantui Pengguna Kereta Komuter di Ibu Kota?

TBC Menghantui Pengguna Kereta Komuter di Ibu Kota?

54
0


Suara.com – Kereta komuter bisa dibilang menjadi transportasi favorit warga Jakarta, setelah era metromini berlalu. Selain murah, kenyaman dan keselamatan penumpang tampak terjamin. Namun, satu hal yang luput: kereta komuter bisa menjadi tempat ampuh bagi persebaran penyakit, seperti TBC.

Kereta komuter dianggap sebagai salah satu lingkungan memiliki potensi terjadinya penyebaran tuberkulosis atau TBC yang sangat cepat, tak terkecuali di Indonesia.

World Health Organization (WHO) menyebutkan, jumlah kasus tuberkulosis di Indonesia telah mencapai 1,6 juta orang selama tahun 2016 dengan estimasi 100.000 kematian per tahunnya. Dengan demikian terdapat 273 kasus kematian per hari atau 11 kematian setiap jam akibat tuberkulosis.

Indonesia peringkat kedua di dunia setelah India penyumbang penyakit TBC terbesar. Sedangkan DKI Jakarta adalah daerah terbanyak penderita TBC di Indonesia. Salah satu satu penyebab tingginya tingkat penularan TBC adalah, tingkat kepadatan penduduk.

Kepadatan penduduk di Jakarta saat ini yaitu 17.200 km², sementara standar WHO hanya sebesar 9.500 km². Diperparah dengan mereka yang lalu lalang keluar masuk Jakarta sebanyak 4 juta orang per hari. Hal ini mengakibatkan jarak antara mulut ke mulut tidak sampai 20 sentimeter.

Sementara berdasarkan data PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), saat ini rata-rata penumpang KRL mencapai sekitar 850.000 orang setiap hari. Target PT KAI pada 2019, jumlah penumpang mencapai 1,2 juta penumpang setiap hari.

***

Ulfa sampai syok saat tahu dirinya menderita penyakit tuberkolosis resistan obat (TBC RO). Ia sempat depresi, lantaran bakteri yang menyerang tubuhnya itu membuatnya harus berjarak dengan keluarga, teman dan lingkungan.

Awal terkena TBC RO pada April 2016, ia masih kuliah di salah satu Universitas Kota Bogor. Ketika itu, wanita yang memiliki nama lengkap Ulfa Umar ini tengah ujian semester.

Kondisi kesehatannya semakin parah, bahkan untuk mengikuti ujian di kampus ia diantar oleh saudaranya.

Setelah ujian semester, ia terpaksa cuti dari perkuliahan. Anak sulung dari lima bersaudara itu harus menjalani pengobatan selama 20 bulan.

Selama 2 tahun itu, ia harus meminum obat belasan butir setiap hari dan suntikan. Minum obat dan suntik setiap hari tidak boleh terputus selama 2 tahun. Sebab jika terputus, dia harus mengulang dari awal lagi proses pengobatannya.

“Waktu kena TB RO, saya berobat selama 20 bulan. Terakhir saya sampai minum obat 19 butir, setiap kali minum karena berat badan naik,” Ulfa kepada Suara.com pekan lalu.

Rangkaian KRL Commuterline melintas di kawasan Manggarai, Jakarta, Kamis (14/12).
Rangkaian KRL Commuterline melintas di kawasan Manggarai, Jakarta, Kamis (14/12).

Selain itu, obat TBC RO memiliki efek samping terhadap si pasien. Rata-rata, efek setelah minum obat TBC RO adalah berhalusinasi.

Kemudian khusus untuk pasien TBC RO, mengonsumsi obatnya harus di puskesmas atau rumah sakit. Obatnya tidak bisa dibawa pulang seperti obat TBC reguler, karena meminum obatnya di bawah pengawasan petugas kesehatan.

Kebijakan itu dikeluarkan Dinas Kesehatan, lantaran banyak pasien TBC yang tidak patuh meminum obat. Alhasil penderita TBC di Indonesia terus bertambah setiap tahun.

Efek samping lainnya yang lebih parah karena mengonsumsi obat TBC itu adalah, pengaruh pada pendengaran dan mata. Bahkan ada pasien yang sampai tidak bisa mendengar.

Ulfa bahkan sempat mengalami gangguan pendengaran akibat efek obat. Ia merasakan tubuhnya berkeringat dan suhu tubuhnya panas saat malam hari.

“Banyak pasien TBC RO yang meninggal. TBC RO itu tingkat kesembuhannya tipis sebenarnya, jadi yang berhasil sembuh alhamdulillah banget deh pokoknya,” ujarnya.

Salah satu yang membuatnya sempat depresi adalah karena tidak bisa beraktivitas. Pasien TBC RO tidak bisa beraktivitas selama menjalani pengobatan sampai sembuh.

Proyek pembangunan Stasiun KRL Sudirman-Bandara di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (22/11).
Proyek pembangunan Stasiun KRL Sudirman-Bandara di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (22/11).

Selama dua tahun, Ulfa menganggur, cuti dari kuliah. Lamanya pengobatan yang setiap hari harus minum obat membuatnya bosan, jenuh.

Ulfa juga  harus melawan stigma TBC di masyarakat. Selama itu ia harus merasakan badan sakit dan susah tidur. Yang membuatnya kuat untuk menjalani pengobatan sampai sembuh selama dua tahun itu adalah keluarga.

Namun, di lingkungan keluarga sendiri ia sempat mengalami diskriminasi. Ruangannya dibuat tersendiri, terpisah dari keluarga lain, tidak boleh dekat-dekat dengan orangtua dan adik-adiknya.

Bahkan untuk makan, peralatan seperti piring, gelar dan sendoknya sendiri, dipisah dengan yang lain.

“Padahal kata dokter, TBC itu bukan tertular dari sendok, piring dan gelas yang sama. Tetapi penularannya dari udara dan bersin,” ungkapnya.

Seusai Naik Kereta Komuter

Ini bukan penyakit TBC pertama yang dialami Ulfa. Sebelumnya, pada tahun 2013 ia pernah terular TBC sensitif atau regular.

Ketika itu ia menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat setiap hari secara rutin selama 6 bulan hingga akhirnya sembuh.

Namun, TBC RO yang ia derita pada 2016 bukan dari bakteri TBC sebelumnya yang kambuh, tapi bakteri baru.

Ia menuturkan, berdasarkan keterangan dokter, penyakit TBC itu kalau sudah sembuh, tidak bisa kambuh.

Jadi ia menduga TBC RO yang diderita tertular dari seorang penumpang di kereta komuter. Sebab, keluarga dan lingkungannya tidak ada yang menderita TBC.

Ia mengingat pada April 2016 silam, suatu ketika naik kereta komuter dari stasiun Tanjung Barat pulang ke Bogor. Di gerbong kereta itu ada seorang Ibu-ibu yang batuk parah tidak henti-henti hingga stasiun terakhir.

“Ibu itu batuk enggak berhenti-berhenti, dia sampai ditegur oleh orang-orang. Soalnya dia kan enggak pakai masker, batuknya disembur-semburkan ke udara. Penumpang lain sampai bertanya ke dia, ibu sakit? Dia bilang saya enggak sakit,” tutur Ulfa.

Ilustrasi Tuberculosis. (Shutterstock)
Ilustrasi Tuberculosis. (Shutterstock)

Dia menjelaskan, pasien TBC tidak ada yang mau mengakui jika ditanya penyakitnya. Sebab, secara psikologis, pasien TBC takut lantaran stigma di masyarakat.

“Jadi ada kemungkinan saya tertular dari kereta komuter itu. Sebab, setelah dari itu saya mulai batuk, kondisi badan benar-benar ngedrop, berat badan turun,” ucapnya.

Setelah menjalani pengobatan selama 20 bulan, Ulfa akhirnya sembuh total dari TBC RO yang diderita. Kini ia aktif di Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) Tuberkulosis.

Bahkan, ia juga masih menggunakan kereta komuter berangkat dan pulang kerja dari Bogor ke kantornya di Rawamangun, Jakarta Timur.

Menurutnya yang penting kondisi tubuh harus selalu fit untuk menghindari penularan TBC di kereta komuter.

Dia menambahkan, penyakit TBC itu tidak mengenal kasta dan profesi, siapa saja berpotensi tertular. Penyakit TBC ini tidak hanya diderita kalangan masyarakat bawah, tapi sampai ke kelangan menengah atas.

“Pasien TB yang kami dampingi sekarang ada yang pilot, pegawai Mahkamah Agung, PNS. Tapi masalahnya banyak dari mereka yang kelas menengah atas itu enggak percaya ia menderita TBC, dan enggak mau berobat,” terangnya.

Oleh sebab itu, ia menyarankan perlu ada informasi tentang bahaya TBC dan antisipasinya di gerbong-gerbong kereta api. Bentuknya bisa iklan di stasiun dan gerbong kereta komuter.

Etiket Batuk Masih Buruk

Greg R Daeng (29) adalah warga Bogor yang sering ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Dalam sepekan, empat kali ia pulang pergi ke Jakarta atau ke Bekasi menggunakan KRL. Ia menggunakan KRL sejak 2015 hingga saat ini.

Dulu, Greg jarang menggunakan masker penutup mulut saat berpergian. Tapi sejak 2017, ia selalu mengenakan masker saat di jalan maupun di dalam KRL.

Salah satu yang mendorong ia rutin menggunakan masker adalah sadar akan risiko kesehatan dan penularan penyakit di kereta.

“Dulu awal-awal tahun 2015, saya sering sekali kena radang tenggorokan, hampir sebulan sekali,” kata Greg kepada Suara.com, Senin (22/4/2019).

Greg menduga, jangan-jangan karena tidak pernah mengenakan masker, ia jadi sering menderita radang.

Greg melihat, udara di Jakarta tidak sehat untuk dihirup terus menerus tanpa masker. Terlebih lagi risiko tertular penyakit di kereta sangat tinggi.

“Sebetulnya saya orang yang telat memikirkan risiko semacam itu. Padahal potensi resikonya besar. Saya berpikir, mungkin itu menjadi penyebabnya mengapa dulu saya sering terkena radang tenggorokan,” ujar dia.

Apalagi, lanjutnya, tingkat kepadatan penumpang KRL saat jam-jam sibuk sangat tinggi. Penumpang yang berdiri saling berimpitan. Muka sama muka pun bisa saling langsung berhadapan di atas KRL saat jam sibuk.

Ketika ada salah satu penumpang yang batuk atau bersin tanpa masker, semburannya bisa langsung mencapai penumpang lainnya.

“Sering sekali ada yang seperti itu. Kalau bersin ya bersin saja, bahkan langsung kena ke kita yang berada di depan atau di sebelah dia. Mau bagaimana lagi, namanya kita dempet-dempetan seperti itu. Jarang ada yang menegur penumpang yang batuk atau bersin tanpa masker,” keluh Greg.

Sayangnya, hal seperti itu belum menjadi perhatian khusus dari petugas di KRL. Petugas hanya fokus menjaga keamanan penumpang. Belum sampai pada perhatian tentang risiko penyakit menular.

“Padahal, selain keamanan, yang penting kan juga kenyamanan. Urusan kesehatan itu masuk kepada kenyamanan penumpang,” ucap Greg.

Hal senada juga diutaran oleh Nabilla Nabilla Triakhiriani Anurka (21), mahasiswa semester IV di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta Selatan.

Hampir setiap hari Nabilla menempuh perjalanan selama 45 menit menggunakan KRL, dari bogor ke kampusnya yang terletak di Lenteng Agung.

“Sejak kuliah, Agustus 2017 aku pakai KRL,” kata Nabilla.

Nabilla bercerita, ia sering mendapati penumpang yang batuk sembarangan, tanpa masker atau menutup mulutnya. Kadang-kadang semburan batuk atau bersin langsung mengenai muka Nabilla.

“Aku sinis, (bilang) kalau bisa ditutup mulutnya. Tapi dia bilang enggak sengaja. Jadi kayak lebih galak dia,” ucap Nabilla.

Sejauh ini, Nabilla belum pernah melihat ada petugas yang menegur orang batuk atau bersin sembarangan. Padahal, menurut Nabilla, hal itu perlu dilakukan, mengingat risiko penularan penyakit di KRL sangat tinggi.

“Aku saja, kalau lagi sakit atau flu, pasti pakai masker,” kata dia.

Karena itu, baik Greg maupun Nabilla, sangat setuju kalau ada upaya dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) untuk menanggulangi risiko penyakit menular seperti TBC.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah, menyerukan kepada penumpang yang sakit agar menggunakan masker atau menutup mulut saat sedang batuk.

“Iya jelas banget itu perlu. Karena KRL itu kan padat banget. Sampai sesak. Muka sama muka bisa ketemu. Kalau badan lagi enggak sehat, memang wajib sih pakai masker,” tutur Nabilla.

Menurut keduanya, saat ini, memakai masker di KRL bukan suatu keanehan. Itu hal biasa dilakukan banyak orang di tempat-tempat yang berpolusi atau di tempat yang padat penduduk.

“Saya kira penting juga kita untuk pakai masker. Wajar kalau orang pakai masker di KRL, terutama yang sakit. Itu demi kebaikan kita bersama,” tambah Greg.

***

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Oktavia menerangkan, tingginya tingkat penderita TBC di Jakarta ibarat gunung es.

Terkait jumlah penderita TBC, menurutnya ada orang yang sebenarnya sudah pernah terpapar dengan bakterinya.

Tapi, karena daya tahan tubuh yang bagus atau kontak dengan bakterinya tidak terus menerus dalam jangka waktu yang panjang, sehingga dia tidak menjadi sakit.

“Mungkin saja di antara kita ini sudah pernah kontak dengan kuman TBC, itu saking banyaknya penderita TBC di Indonesia,” kata dia.

Dokter spesialis penyakit menular ini menuturkan, setiap orang berpotensi terkena bakteri TBC, mengingat orang saling berinteraksi setiap hari. Ditambah lagi penularan TBC di Indonesia cukup tinggi.

Namun, TBC itu tidak muncul kalau daya tahan tubuh orangnya bagus. Ketika daya tahan tubuh lemah, apakah karena gizi yang buruk atau karena punya penyakit kronis seperti kencing manis, HIV/AIDS, saat itu lah kuman TBC yang sedang dormant atau tidur jadi bangun, sehingga menjadi sakit.

Oleh sebab itu, untuk menangkal TBC adalah menjaga kesehatan dan nutrisi. Selain itu, saat berada di lingkungan orang banyak harus tahu etiket batuk dan bersin supaya tidak menularkan penyakit.

Etiket batuk di ruang publik adalah menutup mulut saat batuk. Namun orang yang sedang batuk dan flu dianjurkan untuk mengenakan masker.

“Pakai masker harus disadari oleh orang yang sakit, karena orang yang sehat itu tidak menularkan apa-apa. Tapi orang yang batuk itu penting untuk punya perilaku baik saat batuk,” tuturnya.

Ia menuturkan, Dinas Kesehatan DKI terus melakukan edukasi kepada masyarakat dengan iklan di tempat-tempat publik seperti halte, TransJakarta dan kereta api.

Tapi ia mengakui, untuk di kereta komuter kini belum ada iklan bahaya penularan TBC dan pencegahannya seperti himbauan menggunakan masker bagi warga yang sedang sakit.

“Tugas besarnya memang di tempat publik belum semua orang sadar pada saat dirinya batuk pilek harus pakai masker,” kata dia.

Menurutnya, sekarang sudah banyak warga yang batuk dan pilek menggunakan masker di ruang publik dibanding 5-10 tahun lalu. Sekarang orang sudah biasa memakai masker di tempat umum. Berbeda 10 tahun lalu, orang yang menggunakan masker dicurigai, bahkan diledek.

Dia menjelaskan, bagi pasien TBC dianjurkan menggunakan masker bedah agar tidak menularkan ke orang lain. Masker bedah itu ukuran pori-porinya lebih kecil ketimbang ukuran bakteri TBC.

Namun, bagi orang yang batuk dan pilek biasa cukup menggunakan masker biasa supaya tidak menularkan ke orang lain.

Dia mengungkapkan, tahun 2018 terdapat 36.000 penderita TBC. Sebanyak 719 orang di antaranya menderita TBC RO. Angka temuan penderita TBC ini lebih dari target Dinkes DKI yang hanya menargetkan 35.000.

Namun, Kementerian Kesehatan menargetkan Dinas Kesehatan DKI bisa menemukan sebanyak 42.000 penderita TBC tahun 2019. Dengan begitu, bisa dilakukan pengobatan untuk mengeleminasi penularan TBC di tanah air.

“Jadi sangat penting untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, TBC RO bisa karena ketularan langsung dari penderita TBC RO atau bisa juga karena prilaku berobat pasien yang tidak teratur. Misalnya pasien TBC reguler minum obatnya tidak rutin atau terputus, sehingga berpeluang meningkat menjadi TBC RO.

“Penderita TBC kalau dia tidak mengambil obat selama 3 Minggu, itu akan dicari ke rumahnya. Karena saking khawatirnya pengobatan yang tidak sembuh,” kata dia.

Dwi menambahkan, pihaknya akan menjalin kerjasama dengan PT Commuter Line Jabodetabek untuk melakukan edukasi bahaya penularan TBC.

Kerja sama itu berupa iklan informasi bahaya TBC dan pentingnya penggunaan masker bagi warga yang batuk dan flu di gerbong-gerbong kereta komuter.

***

Vice President Corporate Communication PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba menyampaikan, saat ini pengguna KRL setiap hari 900.000 hingga 1 juta orang per hari.

Pengguna yang paling banyak adalah di lintas Jakarta Kota/Jatinegara – Depok/Bogor PP yang mencakup 69 persen dari total pengguna.

“Tahun ini KCI menargetkan dapat melayani 340.655.498 pengguna sepanjang 2019, pertumbuhan pengguna per tahun sepanjang 2013-2018 adalah sekitar 17 persen per tahun,” terangnya.

Pihaknya sadar terhadao potensi penyebaran penyakit menular, mengingat besar dan beragamnya pengguna KRL.

Untuk itu, PT KCI mengupayakan dari segi penyelenggaraan sarana KRL adalah dengan menjaga kebersihan kereta setiap hari.

Setiap perjalanan, KRL selalu dibersihkan oleh kru on trip cleaning (OTC) demi menjaga kenyamanan dan kesehatan pengguna KRL.

Selanjutnya setiap hari saat kembali ke Dipo, KRL selalu dibersihkan eksterior dan interiornya. Selanjutnya KRL juga menjalani cuci besar setiap bulan, pest control setiap pekan dan salonisasi.

Untuk pencegahan dan penanganan pertama terkait kesehatan di lingkungan stasiun maka KCI juga menyediakan layanan pos kesehatan di 27 stasiun. Di sini terdapat petugas medis yang siap melayani selama jam operasional stasiun.

“PT KCI juga menyarankan pengguna untuk bepergian dalam kondisi fit atau menggunakan alat bantu seperti masker untuk melindungi diri saat sedang dalam kondisi kurang sehat,” tutur dia.

Pihaknya juga membuka kerjasama dengan instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dinas Kesehatan DKI beberapa kali sempat menggelar penyuluhan berbagai penyakit dan imunisasi di stasiun kereta. Sselain itu sosialisasi terhadap pengguna terkait kesehatan juga kerap ditayangkan di TV KRL.

“KCI sangat terbuka terhadap berbagai ajakan dan kerja sama untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya pengguna KRL.”





Source link
(Andrew Hidayat/AMPM.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here