Beranda News Mengenang Franzalbert Joku, dari OPM ke Pejuang Otsus Papua

Mengenang Franzalbert Joku, dari OPM ke Pejuang Otsus Papua

3
0






Jakarta
Perbedaannya adalah bukan pada apa yang saya pelajari, tetapi pada bagaimana saya memikirkannya. Saya rasa intinya pada pola pikir atau mind set. (Franzalbert Joku)

Sosok Franzalbert Joku, yang mengakhiri seluruh karier kehidupannya pada 28 April 2019 di bumi kini tinggal kenangan di hati orang yang mencintainya, dan bahkan berbekas di hati orang yang memusuhinya. Ia meninggal dunia dengan diagnosis medis, terjadinya komplikasi gagal ginjal dan jantung. Tulisan ini saya tulis untuk menghormati beliau sebagai seorang pemimpin dusun yang berkualitas internasional, dan sanggat jarang kita mendapati sosok spesial seperti ini di Tanah Papua.

Franzalbert Joku lahir pada 20 Februari 1953, dibesarkan dan tumbuh dalam sebuah lingkungan adat bangsawan dusun dalam jenjang ke-Ondofolo-an di Kampung Ifar Besar di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Oleh karena keturunan Odofolo di atas ayahnya, secara otomatis menurunkan kekuasaan adat tersebut dalam struktur adat garis lurus kepada dirinya, sehingga ketika sampai pada saat menghembuskan napas terakhirnya, dia memegang kekuasaan dan menduduki jabatan Ondofolo, yang nama resminya Ondofolo Franzalbert Joku.


Franzalbert Joku adalah seorang tokoh Papua yang berkaliber internasional dan terkenal memberikan sumbangan besar terhadap pembangunan masyarakat, memperjuangkan kesamaan hak-hak asasi, serta keadilan dan perdamaian di dunia, khususnya di dua negara yang berbeda yaitu untuk negara dan masyarakat di Papua New Guinea, dan untuk negara dan masyarakat Indonesia, lebih khususnya perjuangannya mengangkat martabat dan hak-hak asasi untuk masyarakat di tanah Papua.

Atas perjuangan dan pengabdian dan darma bakti yang demikian besar, maka kepada Franzalbert Joku, kedua negara dan pemerintah telah menganugerahkan penghargaan dan bintang jasa, yaitu Bintang Jasa NARARIA dari Negara Kesatuan Republik Indonesia –diserahkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada 2014, dan Bintang Jasa Officer of Order Loghohu serta Bintang Jasa Order Star of Melanesia –diserahkan oleh Gubernur Jenderal Negara Papua New Guinea atas nama Ratu Inggris pada 2018.

Selain penghargaan kenegaraan tersebut, Franzalbert Joku adalah penerima medali The Best Journalist Award untuk Pasifik dan Oceania meliputi zona Australia dan Selandia Baru.

Atas jasa dan sumbangan kepada bangsa dan rakyat Indonesia teristimewa Papua, pemerintah Republik Indonesia memberikan penghormatan dan penghargaan Upacara Kenegaraan dengan salut militer yang dipimpin oleh Panglima Kodam XVII Cenderawasih dalam proses pemakaman almarhum sampai saat jasadnya turun ke liang lahat.

Semua anugerah bintang kehormatan yang diterimanya tidak menjadikan Franzalbert Joku sombong atau tinggi hati. Ia selalu menyatakan bahwa semua itu adalah bukan karena dirinya semata, tetapi oleh karena semua orang yang ada di barisan bersamanya, yang mendorong terlahirnya konsep pikiran perubahan dan pembaharuan mengejar masa depan Papua dalam bingkai NKRI.

Franzalbert Joku seorang tokoh Papua yang selalu memperjuangkan agar rakyat di tanah Papua menerima status Otonomi Khusus yang diberikan oleh pemerintah pusat karena hal itu dipandang sebagai sebuah pilihan politik terbaik di era milenium yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan dan penyelamatan umat manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Setelah kembali di Indonesia dan mengumumkan kewarganegaraan Indonesia pada 23 Februari 2008, Franzalbert Joku mendukung seluruh proses Reformasi di Indonesia dan menerima kebijakan-kebijakan pemerintah pusat di bawah Otonomi Khusus untuk Papua. Pilihan terhadap politik era milenium ini sungguh penting karena bukan hanya status politiknya, tetapi pemerintah pusat telah mengakomodir seluruh kepentingan dan hak dalam sebuah Undang-Undang Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001.

Jika dicermati dan diteliti dengan saksama bahwa UU Nomor 21 Tahun 2001 dalam perbandingan dengan Undang-Undang lain yang pernah mengubah nasib bangsa-bangsa di dunia ini, maka sejarah dunia mencatat visi besar para pemimpin hebat pada masing-masing era dengan ciri dan citra perjuangan tersendiri. Martin Luther King, memperjuangkan civil rights agar ada kesamaan hak orang putih dan orang hitam di Amerika; Nelson Mandela berjuang untuk orang Afrika, equal rights antara orang hitam dan orang putih, apakah hal demikian adalah sebuah kebodohan?

Perjuangan tokoh-tokoh di atas adalah untuk menghasilkan UU yang mengatur tentang kesamaan hak-hak azasi kemanusiaan dan kemudian lahirlah UU Civil Rights di Amerika Serikat dan UU penghapusan apartheid di Afrika Selatan.

Apakah sejarah perjuangan Papua untuk merdeka telah salah jalur? Perjuangan dari aspirasi merdeka yang dituntut oleh orang Papua telah melahirkan UU Otonomi Khusus yaitu UU Nomor 21 Tahun 2001. Lebih hebat dan kuat bahwa UU tersebut adalah jawaban atas tanggung jawab NKRI terhadap Tuntutan Delapan Butir Tujuan Pembangunan Dunia (Development Goals) yang dikeluarkan oleh Sidang Umum Milenium Tahun 2000 terhadap kemajuan, kemakmuran, keadilan dan keamanan masyarakat bumi, termasuk masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Papua di Tanah Papua.

Dan, itulah pilihan politik yang kemudian diperjuangkan oleh Franzalbert Joku dan kelompok IGSSARPRI (Independent Group Supporting Special Autonomous Region of Papua within the Republic of Indonesia) dalam koridor sah sebuah negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, di bawah Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) sebagai Staf Khusus di Papua Desk- Otonomi Khusus.

Pilihan politik inilah yang kemudian mengantarkan Franzalbert Joku ke panggung politik nasional Republik Indonesia untuk berjuang mempertahankan integrasi Papua dalam NKRI agar seluruh visi, misi, tujuan dan maksud UU Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001 mendapat dukungan masyarakat dan pemerintahan daerah di Tanah Papua. Visi perjuangan ini adalah seirama dengan seluruh tujuan pembangunan yang sedang diimplementasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, gubernur, para bupati, para kepala distrik, dan semua Aparatur Sipil Negara dan para stake holder lainnya di Tanah Papua.

Agar tujuan murni UU Otonomi Khusus bisa terwujud, maka Franzalbert Joku telah bertarung di kancah politik internasional untuk memperkuat keutuhan dan keintegrasian Papua dalam NKRI melalui berbagai misi diplomatik bersama pemerintah Indonesia di beberapa forum, antara lain Forum Negara-Negara Pasifik (PIF) yang terdiri dari 16 Negara Pasifik, Forum Melanesian Spearhead Group Summit (MSG) yang melibatkan 5 negara Pasifik Selatan, yaitu Papua New Guinea, Fiji, Solomon Islands, dan New Caledonia, serta berbagai misi diplomatik ke negara-negara Eropa yang bergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa seperti Belanda, Jerman, Belgia, Inggris, Swiss dan misi diplomatik Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru bahkan di markas besar PBB di New York.

Franzalbert Joku dengan lidah politik yang fasih berbahasa Inggris dan didukung oleh pendidikannya dari Universitas Stanford-California, Amerika Serikat, dan segudang pengalaman berpolitik di tingkat negara sebelumnya dapat mengartikulasikan kepentingan nasional Indonesia yang ada hubungannya dengan masyarakat Papua dan UU Otonomi Khusus dan masa depan Papua secara pasti dan bermartabat dalam setiap dialog dan diplomasi politik.

Ia mengakui meskipun Undang-Undang Otsus belum sepenuhnya sempurna, tetapi setidak-tidaknya telah mencetuskan sebuah cakrawala baru menembus tirai masa depan yang lebih baik dari sebuah masa kelam di masa lalu dan harus dipandang atau diterima sebagai pengakuan NKRI di bawah UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Perubahan peradaban di Tanah Papua dapat membuktikan bahwa UU Otonomi Khusus adalah sebuah jendela peluang yang terbukti memberi tunas masa depan Papua yang cerah, yaitu dengan adanya ratusan bahkan ribuan pemuda Papua kini telah menerjunkan diri mereka untuk menjadi kekuatan pengubah masa depan Papua. Mereka kini tersebar dalam dunia ilmu pengetahuan, menimba pendidikan dalam dan luar negeri, bahkan beberapa kini menjuarai Olympiade Science dan ada pula yang lulus dengan predikat terpuji dan terbaik dari universitas ternama dunia.

Dalam era milenium yang serba berubah, generasi baru Papua telah berada di garis persaingan zaman bersama 260 juta rakyat Indonesia, tidakkah mustahil jika generasi emas Papua terwujud di era milenia di depan mata kita? Pikiran-pikiran cerdas dan konstruktif dari Franzalbert Joku dan inspirasi dan impian masa depan dalam perjalanan peradaban orang Papua akan terbukti mewujudkan Papua yang bebas dan merdeka dari lingkaran isolasi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan untuk masuk dunia civil society yang berkualitas dan sejahtera.

Tidak banyak tokoh Papua yang berpandangan bahwa perubahan melalui reformasi di Indonesia adalah awal terlahirnya kekuatan baru untuk memperjuangkan nilai-nilai keasasian manusia dalam sebuah koridor politik, hukum, dan sistem kenegaraan yang sah untuk menembus modernisasi Papua yang bertaraf internasional.

Dari segudang pengalamannya di pemerintahan Papua New Guinea sebagai Chief of Staff Perdana Menteri, dan dalam kapasitas berbagai posisi senior dalam pemerintahan dan didukung oleh pengalaman organisasi dan berbagai Konferensi Internasional di seantero dunia, ditambah kematangan interview dengan pemimpin negara-negara di dunia, telah berartikulasi dalam pemahaman masa ini tentang arti sebuah perjuangan, teristimewa perjuangan orang Papua untuk merdeka, adalah upaya kemanusiaan yang harus didukung dan terus-menerus diperjuangkan dalam koridor pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena hanya NKRI yang mendapat mandat internasional tentang masa depan orang Papua melalui Sidang Umum PBB dengan Resolusi PBB 2504 Tahun 1969.

Inilah opsi politik dan solusi terbaik dalam era milenial untuk memajukan seluruh kehidupan masyarakat Papua.

Rintisan perjalanan dan karier seorang Franzalbert Joku dalam menapakkan perjuangan Papua Merdeka juga tidak kecil sumbangannya, pernah menjelajahi separuh bumi di bawah bendera Presidium Dewan Papua, hal mana mengantarkan beliau untuk duduk di kursi peserta Sidang Umum PBB, Millenium Summit 2000.

Namun pilihan jalur politiknya berubah arah setelah Reformasi di Indonesia yang diyakini akan mengubah seluruh tatanan sosial politik di Tanah Papua, dan dapat memberikan faedah kemanusiaan kepada orang Papua untuk menikmati hak-hak kemanusiaan yang terjamin di dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Sebagai salah satu orang Papua yang pernah berjuang untuk Papua Merdeka, bahkan salah satu penggagas berdirinya organisasi IGSSARPRI, saya menulis ringkasan mengenang seorang Franzalbert Joku dengan perasaan hormat dan bangga bahwa pernah ada seorang pejuang dan pemikir Papua dalam pergolakan politik bangsanya yang beradu di atas kepentingan politik masa dan perubahan arti dan norma, seorang Franzalbert Joku dengan berani menyatakan diri dan memilih alur politik era baru, menempatkan kepentingan bangsanya di dalam kepentingan bersama 260 juta rakyat Indonesia menyongsong masa depan Papua yang kian mencuat dalam peta politik domestik Indonesia dan dunia luas.

Itulah terobosan politik milenia dengan menggenapi kata-kata Sukarno: “Jadikan Papua zamrud indah dalam sabuk Indonesia melintasi Khatulistiwa.”

Akhirnya, jika Anda harus benar, Anda menempatkan diri sendiri dalam sebuah benteng tertutup, tetapi begitu Anda merasakan hebatnya tidak harus benar, Anda akan merasa seperti berjalan melintasi sebuah padang terbuka, di mana cakrawala terbentang luas dan kaki Anda bebas melangkah ke mana saja.

Bravo only for brave people, one is you, Brother FAJ!

John Al. Norotouw mantan pejuang Organisasi Papua Merdeka


(mmu/mmu)

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!






Source link
(Andrew Hidayat/AMPM.co.id)

Andrew Hidayat 
Instagram Andrew Hidayat
Pinterest Andrew Hidayat
Twitter Andrew Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here